PROLOG

“… Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan suapaya kamu semua menjadi saksi atas seluruh manusia…” (Al-Hajj [22] : 78)

Apa artinya menjadi muslim? Untuk sekadar punya nama di mata orang bahwa kita dilahirkan dari keluarga taat beragama? Ataukah semata untuk dibubuhkan pada tanda pengenal, bahwa kita pemeluk Islam? Atau bisa jadi ingin selamat pada perhitungan di dunia selanjutnya, orang bilang, ” biar kita selamat di akhirat”. Jadi, kalau sudah terlahir dari keluarga muslim, atau katepe-nya Islam, sudah aman dan selamat, begitu? Terus masa bodoh dan berbuat semaunya sesuai keinginan, ya? Dunia ini sudah ada aturannya kawan. Ada hukum alam, ada hukum syariat. Maka tentu, aturan dalam agama dan beragama termasuk pada hukum tersebut.

Ah, bicara hukum suka bikin ribet bin pusing ya? Hehe. Sederhananya begini saja, jika kita seorang muslim, maka ada jalan terindah bagi kita untuk mencapai kebahagian dunia akhirat. Percaya atau tidak, bahasan selanjutnya akan membuat kita mabuk untuk merasakan nikmatnya menjadi seorang muslim. Lalu kita akan berkata, “Waah.. menjadi muslim itu sesuatu ya..” hihi.

Yuk, kita mulai perjalanan singkat kita!

KOMITMEN MUSLIM SEJATI

Nah, masih penasaran kan ya? Kenapa aturan dalam Islam itu merupakan jalan terindah untuk bahagia dunia akhirat? Bukan cinta terindah ya, ops, itu kelasnya beda lagi. Hehe. Yuk, mari kita telusuri bersama. Have a nice trip guyz!

JALAN TERINDAH 1 – Saya Harus Mengislamkan Aqidah Saya

Menjadi muslim musti punya aqidah yang bagus, lurus dan jernih. Bagus sehingga ia tidak tampak cacat. Lurus agar tidak tersesat ke neraka. Jernih supaya jelas meyakini islam secara sempurna tanpa terhalang oleh kotoran.
Next, bagaimana kita bisa memiliki keyakinan seperti itu? Yuk, kita ke bawah!

  1. Percaya (beriman) bahwa pencipta alam raya ini adalah Allah Yang Mahabijaksana, Mahakuasa, Maha mengetahui dan Mahahidup. Buktinya, alam ini bergerak dengan sebuah sistem yang sangat baik, teliti & rapi. (Al-Anbiya’:22) 
  2. Percaya (beriman) bahwa Allah yang Maha Tinggi tidak menciptakan alam raya ini secara main-main, dan tanpa tujuan. (Al-Mukminun : 115-116)
  3. Percaya (beriman) bahwa Allah swt telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci sebagai sarana agar manusia mengenal-Nya, menjelaskan tujuan penciptaan diri mereka, asal-usul, dan tempat kembali mereka (An-Nahl : 36)
  4. Percaya (beriman) bahwa tujuan dari keberadaan manusia di dunia adalah mengenal Allah dengan sifat-sifat yang diterangkan langsung oleh-Nya, agar manusia taat dan menyembah-Nya. (Adz-Dzariyat : 56-58)
  5. Percaya (beriman) bahwa orang mukmin yang taat akan mendapat balasan surga dan orang kafir yang bermaksiat akan mendapat balasan neraka. (Asy-Syura : 7)
  6. Percaya (beriman) bahwa manusia melakukan amal yang baik dan buruk dengan pilihan dan kehendaknya sendiri kecuali karena pertolongan Allah. (Asy-Syams: 7-10) dan (Al-Muddatstsir : 38)
  7. Percaya (beriman) bahwa hanya Allah yang berhak membuat hukum dan siapa pun tidak boleh melanggarnya. (Asy-Sura : 10)
  8. Berusaha mengenal Allah dengan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kebesarannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
  9. Berusaha memikirkan makhluk Allah dan tidak memikirkan Dzat-Nya. (HR. Abu Nu’aim dalam kitab Al-Hilyah)
  10. Mengenai sifat-sifat Allah swt, banyak ayat Al-Qur’anul Karim yang menerangkan kesempurnaan Allah yang hakikatnya tidak bisa diukur oleh kemampuan akal manusia.
  11. Yakin bahwa pendapat generasi salaf lebih layak diikuti untuk untuk menyelesaikan masalah ta’wil dan ta’thil (menafikan sifat-sifat Allah).
  12. Harus menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan-Nya. (An-Nahl : 36)
  13. Hanya takut kepada Allah dan tidak pernah takut kepada aapun selain dari-Nya. (Al-Mulk : 12) dan (An-Nur : 52)
  14. Selalu mengingat Allah dan senantiasa berdzikir kepada-Nya. (Ar-Rad : 28)
  15. Cinta kepada Allah yang membuat diri semakin rindu kepada keagungan-Nya dan hati terpaut kepada-Nya sehingga memotivasi untuk berbuat baik dan semangat berkorban serta berjihad di jalan-Nya (At-Taubah : 24)
  16. Sebagai sarana manisnya iman yaitu lebih mencintai Allah dan Rasulnya, mencintai orang lain karena Allah dan tidak suka kembali kepada kekafiran. (HR. Bukhari)
  17. Bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan dan menyerahkannya kepada Allah sehingga menumbuhkan semangat seberat apapun kesulitan yang dihadapi akan tetap di arungi (Ath-Thalaq : 3)
  18. Bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, karunia dan rahmat-Nya yang tidak terhingga.(An-Nahl : 78), (Yasin : 33-35), (Ibrahim : 7)
  19. Selalu memohon ampun kepada Allah. Istigfar dapat menghapus kesalahan, memperbaharui taubat dan iman serta melahirkan ketenangan. (An-Nisa’ : 110), (Ali Imran : 135-136)
  20. Selalu merasa diawasi oleh Allah, baik dalam kondisi tersembunyi maupun terang-terangan (Al-Mujadilah : 7)

See, bagaimana Allah menciptakan, mengatur, menyiapkan, mengawasi. Allah sediakan jalan terindah bagi aqidah kita, biar ia selalu terjaga bagus, lurus dan jernih. Lihat kata kuncinya ya, Al-Quran dan hadits Rasul Saw..

JALAN TERINDAH 2 – Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya

Ibadah dalam perspektif Islam adalah kepasrahan total dan merasakan keagungan Allah dimana menghubungkan makhluk dengan Penciptanya.

Jika kita pikir-pikir ya, sesayang-sayangnya manusia kepada manusia lainnya, adakah kita lihat yang sayangnya sangat sempurna tanpa kurang sedikitpun? Dari segi waktu, tenaga, perhatian, kasih sayang, dan lainnya? Pernahkah kita temukan? Akal mengatakan mustahil bukan?

Lalu di balik semua ketidakberdayaan itu, ada Allah yang selalu hadir memenuhi semua kebutuhan kita. Tidak dimintapun, Allah bakal hadir buat kita. Hanya satu yang Allah perintahkan untuk kita. Ibadah. Masihkah kita membuat alasan lantas bermalas-malasan?

Berikut ini jalan terindah bagi ibadah kita, agar selalu tersambung dengan Allah, bahasa anak “gehol-nya” keep in touch,

a. Menjalankan ibadah dengan penuh makna dan tersambung dengan Allah.

b. Melakukan ibadah dengan khusyuk sehingga merasakan hangatnya hubungan dengan Allah dan nikmatnya kekusyukan.

c. Melakukan ibadah dengan hati yang selalu hadir dan lepas dari segala bentuk kesibukan serta intrik duniawi di sekitarnya.

d. Merasakan ibadah dengan perasaan kurang dan kurang sehingga tidak pernah puas dan dengan perasan lapar sehingga tidak pernah kenyang.

e. Berusaha selalu mengerjakan shalat malam (tahajud) dan selalu konsisten. (Adz-Dzariat : 17-18), (As-Sajadah:16)

f. Meluangkan waktu khusus untuk mempelajari dan merenungkan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (merenungkan), tafakur (mengkaji), khusyu, dan sedih (Al-Isra : 78), (Al-Hasyr:21).

g. Menjadikan do’a sebagai tangga menuju Allah dalam setiap urusan.

Uniknya lagi ya guyz, jika kita selalu terhubung baik dengan Allah, kita bakal selalu disebut-sebut oleh penduduk langit. Waah, enaknya.. Ciee yang trending topik, ciee.. yang jadi bahan pembicaraan.. uhuk. Indah bukan?

JALAN TERINDAH 3 – Saya Harus Mengislamkan Akhlak Saya

Moral (akhlak) mulia adalah tujuan utama dari risalah Islam. Iman tidak berarti apa-apa jika tidak melahirkan akhlak. (Al-Baqarah:177), (Al-Hajj:41), (Al-‘Ankabut:45).

Bagaimanakah kita berakhlak sebagai muslim? Yuk, turun lagi!

a. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat, masih tidak jelas perkara halal-haramnya

b. Menjaga pandangan. (An-Nur : 30)

c. Menjaga ucapan atau lisan seperti ucapan yang tidak bermanfaat dan kotor, ghibah, mengadu domba dan ungkapan jelek atau kasar.

d. Malu

Maksudnya senantiasa memiliki rasa malu dalam setiap kondisi, tetapi tidak menghalangi keberaniannya untuk menyatakan kebenaran.

e. Lapang dada, sabar dan tenang. (Az-Zumar:10), (An-Nur:22), (Asy-Syura:43)

f. Jujur

g. Rendah hati (Tawadhu)

h. Menghindarkan prasangka buruk, ghibah, dan tidak mencari-cari kesalahan orang Islam. (Al-Hujarat:12), (Al-Ahzab:58)

i. Murah hati dan dermawan. (Al-Baqarah : 3 dan 272)

j. Menjadi teladan yang baik bagi orang lain.

Sekarang jika dilontarkan pertanyaan pada kita, “Siapa manusia paling baik di dunia?”. Spontan kita menjawab, “Rasul Saw.”. Tersebab apa? Karena Rasulullah paling mulia dan cantik akhlaknya.

See, bagaimana keelokan tingkah-laku menyemai cinta pada semua. Juga sudah pasti Rasul mengantongi cinta terbesar dari Allah dan penduduk langit. So beautiful, bukan, jika kita disenangi sebanyak-banyaknya orang? Yuk, maniskan akhlak kita! Lanjut.

JALAN TERINDAH 4 – Saya Harus Mengislamkan Keluarga dan Rumah Tangga Saya
Adalah membawa misi Islam ke dalam lingkup masyarakat kecil yaitu keluarga (istri dan anak). Kemudian menyebarkannya ke sanak keluarga, di mulai dari yang terdekat. (At-Tahrim: 6)

a. Tanggung jawab atas pernikahan yaitu :

  • – Pernikahan harus didasari niat karena Allah. Maksudnya, untuk membangun keluarga muslim, melahirkan keturunan yang shalih, snaggup mengemban amanah, dapat mewujudkan, melahirkan, dan menjaga kesinambungan hidayah.
  • – Selektif dalam menjatuhkan pilihan kepada wanita yang akan dipersunting sebagai pendamping hidup dan teman perjalanan di dunia.
  • – Memilih calon istri yang memiliki akhlak yang baik dan shalihah, meskipun kurang dari segi harta dan kecantikannya.
  • – Selalu berhati-hati agar tidak melanggar perintah Allah dalam masalah ini, menjaga diri dari murka Allah dan balasan-Nya

b. Tanggung jawab setelah menikah

  • – Berbuat baik kepada istri dan mempergaulinya dengan cara yang baik pula supaya terbangun kepercayaan di antara keduanya.
  • – Hubungan dengan istrinya tidak hanya sebatas hubungan seks dan nafsu, namun terbangun kesamaan pikiran, semangat dan emosi. (Thaha:132)
  • – Semua hubungan yang terjalin dengan istri harus senantiasa selaras dengan ajaran syariat.

c. Tanggung jawab suami-istri dalam mendidik anak

Membangun perpaduan suami-istri dalam mendidik anak dengan pendidikan islami yang ideal. Setiap bayi terlahir dengan fitrah. Jika kelahirannya disambut dengan pendidikan yang benar, maka akan jadi anak yg shalih. (Al-Furqan: 74)

Tidak egois, namun berjiwa sosial. Allah berikan jalan terindah lainnya, menyempurnakan kita sebagai insan yang bisa menghadirkan dan membentuk lingkungan positif pada keluarga dan masyarakat, bukan hanya kesalehan pribadi. Subhanallah. Oke, next ya.

JALAN TERINDAH 5 – Saya Harus Mampu Mengalahkan Nafsu Saya

Jika kita bukan malaikat, berjuanglah melawan nafsu. Ya iyalah, bukan malaikat. Hihi. Yuk, turun!

A. Dalam menghadapi nafsu, manusia digolongkan menjadi tiga:

1. Orang yang mengalahkan nafsunya 

2. Orang yang dikuasai nafsunya. Akibatnya berorientasi pada duniawi dan materi.

3. Orang yang selalu berusaha keras mengontrol diri dan melawan nafsunya.

B. Faktor-faktor yang menunjang keberhasilan dalam melawan nafsu

1. Hati, yaitu apabila hati tetap hidup, lembut, jernih, keras, dan bercahaya. (Al-Anfal:2), (Muhammad: 24)

2. Akal, yaitu akal yang dapat memandang dengan jernih, paham, dapat membedakan yang baik dan buruk, mengadopsi ilmu dan pengetahuan yang mendekatkan diri kepada Allah dan mengenal keagungan serta kekuasaan-Nya. (Fathir: 28), (An-Nur : 40)

C. Bentuk-bentuk kekalahan dalam melawan nafsu :

Yaitu, jalan-jalan godaan setan pada dirinya bertambah banyak sehingga timbul penyakit waswas (gangguan yang membuatnya selalu ragu). Setan menjadi qarin (pendamping setia) baginya. (Al-Mujadilah: 9), (Al-A’raf : 16-17), (Al-Hasryr: 16)

Seorang peternak, separah apapun kemalasannya, pasti ia punya kandang. Seberapa besarpun kelalaian kita, seperti si peternak, pastikan sedia kandang untuk mengurung nafsu kita. Karena jika nafsu sudah lepas, jangankan ibadah sifat manusiawi sekalipun akan terkubur.
D. Cara membentengi diri dari godaan setan:

  • – Tamak dan berprasangka buruk. Keduanya aku lawan dengan qanaah dan percaya.
  • – Cinta dunia dan angan-angan. Keduanya aku lawan dengan rasa takut dan kematian yang datang tiba-tiba.
  • – Suka santai dan mencari kesenangan. Keduanya aku lawan dengan keyakinan nikmat akan sirna dan timbangan yang buruk ketika menghadap Allah.
  • – Ujub (membanggakan diri). Aku melawannya dengan yakin akan anugerah Allah dan takut menerima akibat yang buruk.
  • – Menganggap rendah dan tidak menghormati orang lain. Keduanya aku lawan dengan mengenali hak dan kehormatan mereka.
  • – Hasad (dengki). Aku melawannya dengan qana’ah dan ridha dengan nasib setiap makhluk yang telah ditentukan oleh Allah.
  • – Riya’ dan mengharapkan pujian dari orang lain. Keduanya aku lawan dengan ikhlas.
  • – Kikir. Aku melawannya dengan keyakinan bahwa semua yang ada di tangan manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.
  • – Sombong. Aku melawannya dengan rendah hati (tawadhu’)
  • – Tamak dengan dunia. Aku melawannya dengan keyakinan apa yang ada di sisi Allah dan zuhud terhadap aoa yang dimiliki oleh manusia.
  • -mengingat Allah (zikir) ketika memulai pekerjaan, membaca Al-Qur’an dan istighfar. Juga bisa dilakukan dengan menghindari kekenyangan sekalipun dari makanan yang halal dan bersih. (Al-A’raf: 31). 
  • – Cara lain adalah tidak tergesa-gesa dan berhati-hati dalam melakukan segala urusan. (Al-A’raf: 201)

See, Allah juga sediakan jalan terindah untuk menjinakkan nafsu kita. Kurang apa lagi coba?

JALAN TERINDAH 6 – Saya Harus Yakin Bahwa Hari Esok Milik Islam

Mengimani Islam sebagai jalan hidup harus mendorong pada tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik Islam. Islam adalah satu-satunya manhaj (sistem) yang sesuai dengan segala kebutuhan dasar manusia, dan dapat menyelaraskan antara tuntutan jiwa dan materi pada manusia. Sifat Rabbaniyah pada manhaj Islam adalah corak (shibghah) khusus yang menjadikan Islam berada di garis depan. (Al-Baqarah: 138)
Yakin dengan kelemahan sistem buatan manusia :

Kita harus mengetahui batas kelemahan dan kegagalan yang dialami oleh sistem-sistem positif buatan manusia seantero dunia – baik kapitalisme, demokrasi, liberalisme, sosialisme, maupun komunisme – karena sifat buatan manusia terbatas, lemah, serba kekurangan dan temporer. q

Jalan terindah, bukan, jika kita bisa bermandikan cinta Allah, penduduk langit, dan penduduk bumi?

Sumber : Grup “Kelas Belajar Online” WhatsApp dengan narasumber Muhajir Muslim dengan Tema pembicaraan “Apa komitmenmu terhadap Islam?”

Iklan