Pilih Uang atau Aku

Karya : Mohamad Rizki

Bahagia sekali aku hari ini, daganganku yang biasanya banyak tersisa kini ludes terjual oleh para penumpang bus di terminal. Mungkin karena hari ini merupakan hari libur sekolah sehingga banyak keluarga yang pergi untuk berlibur.

“Mah, kita mau jalan-jalan kemana?” tanya seorang anak kecil kepada ibunya.

“Ke Jogja, adek.” Jawab ibunya.

“Adek, ayo cepetan naik, busnya mau jalan nih.” Seru Ayah dari anak kecil tersebut.

Hati ini seperti tergores, tersayat, dan hampir hancur ketika melihat sebuah keluarga yang bahagia tidak seperti aku yang hanya memiliki Nenek dan hanya dia yang menyayangiku. Ah sudahlah, Aku harus tetap bersyukur.

tips-cara-menciptakan-keluarga-bahagia-sakinah-maddah

“Hey Nur, nglamun aja, udah habis dagangan loe?” tanya Fandi, teman dagangku di terminal.

“Alhamdulillah udah, kamu sendiri gimana?” jawabku.

“dikit lagi nih, gue cabut dulu ya, banyak penumpang noh disana” jawab Fandi.

Hari hampir sore, aku beranjak untuk pulang ke rumah. Aku bergegas menuju tempat parkir sepeda

“tumben banyak sekali sepeda yang parkir disini, untung sepedaku yabg paling jelek, jadi gampang deh nyarinya” pikirku.

Kreak.. kreok.. terdengar suara sepedaku yang selalu menemaniku di kala matahari mulai meninggalkan singgasananya. Jarak rumahku dengan terminal kira kira 2 km, namun dengan kondisi sepedaku yang sudah sangat tua ini bisa sampai setengah jam lebih.

‘’’

“Assalamu alaikum, nek. Nenek!, oh iya aku lupa nenek kan sedang keliling” sahut aku.

Melepas lelah dengan meminum segelas air putih dan sambil mendengarkan sebuah radio yang usianya lebih tua dariku.

“Assalamu alaikum, Nur”

“Waalaikum salam. Nenek pasti capek, Nur ambilkan air dulu ya!”

Terika kasih, bagaimana daganganmu?” tanya nenek

“Alhamdulillah Nek, udah habis”

Syukur kalau begitu, sana kamu mandi terus sholat Ashar jamaah di masjid.”

“Ya Nur”

Inilah kehidupanku sehari harinya. Aku hidup berdua dengan nenek di sebuah rumah peninggalan buyutku, tepatnya di pinggiran jota Jakarta yang dipenuhi oleh rumah rumah kumuh. Aku dititipkan oleh orang tuaku kepada Nenek dengan alasan ekonomi. Setelah mereka menitipkanku jepada nenek, mereka memutuskan untuk bercerai dan masing-masing oergi untuk mencari kehidupan yang layak. Namun semenjak aku dititipkan sampai sekarang umurku 11 tahun, mereka tidak pernah datang untuk menemuiku sama sekali. Sedih rasanya memiliki orangtua yang sama sekali tidak ada rasa cinta dan sayang kepada anaknya. Untung masih ada nenek, dia lah seorang ibu dan ayah bagiku. Kakek telah meninggak 2 tahun lalu karena penyakit paru-paru basah.

‘’’

“Nur, Nur, Nurohman!..”

“Iya nek, ada apa?”

“Ambilkan Nenek segelas air putih hangat”

“Loh, muka Nenek kok pucat, Nenek sakit?”

“Nggak, Nenek Cuma batuk dikit aja”

Ingin Aku menangis sederas derasnya tanpa ada yang melihat dan mendengar, meratapi nasib yang sebenarnya berat dijalani, namun Nenek selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur.

Hari sudah gelap gulita, Aku dan Nenek tidur dengan nyenyak melepas kelelahan dari pagi sampai sore hari. Tak terasa adzan subuh sudah berkumandang, Nenek bergegas membangunkanku untuk sholat berjamaah bersamanya. Air wudhu selalu mengawali kegiatanku setiap harinya.

Aku dan Nenek berangkat bersama, Aku ke terminal untuk berjualan sementara Nenek keliling jalanan mencari orang yang butuh jasanya untuk mencuci baju. Di jalan Aku bertemu dengan Fandi, kami memutuskan untuk ke terminal bersama.

wp-1473516190179.png

‘’’

“Tumben terminal sepi amat” tanya Fandi

“Iya nih, masih pagi mungkin”

Matahari tepat di atas kepalaku, namun daganganku masih penuh, Aku memutuskan untuk berkeliling saja. Saat di jalan, tiba tiba rantai sepedaku putus.

“Aduh, gimana nih?”

Keringatku bercucuran dengan derasnya, aku memutuskan untuk menuntun sepefa pulang ke rumah dari kejauhan, aku melihat mobil yang mogok. Saat aku hampiri, ya benar itu mobil mogok. Terlihat seorang bapak bapak yang berparas keren dan berpenampilan rapih sedang mencoba mengecek mobilnya, tiba tiba ia mrnengok ke arahku dan bertanya kepadaku.

“Dek, Adek tahu bengkel mobil di dekat sini?”

“Oh tau pak, itu di dekat perempatan.”

“Boleh antarkan saya?”

“Boleh, pak”

Setelah mobil bapak tersebut sudah beres dan rantai sepedaku juga sekalian diurus oleh bapak tersebut, Bapak tersebut mengantarku dengan mengikutiku dari belakang menggunakan mobil. Setibanya di rumah, bapak tersebut ingin berterimakasih kepada Aku dan Nenek, namun setelah melihat nenek, bapak itu bukannya mengucapkan terima kasih, malah lari menuju mobilnya dengan cepat.

“Nur, Nur, itu bapakmu, itu bapakmu, kejar sana, kejar sana, Nur”

“Biarkan saja Nek, itu bukan bapakku, mana mungkin seorang bapak tega meninggalkan anaknya”

Hati ini penuh gejolak antara kemauan dan kemarahan yang sangat mendalam. Ingin aku memecak dan bermain bersamanya, namun ada kekecewaan yang membuatku tidak ingin bertemu dengannya.

“Nur, bagaimanapun jaga, itu bapakmu, kamu harus hormat kepadanya”

“Iya nek, Nur tau itu, tapi Nur masih kecewa sama Bapak dan kenapa sama bapak dan kenapa dia lari Nek?”

“Mungkin, dia malu dan takut bertemu kita, karena kesalahannya”

“Ya sudahlah, Aku mau mandi dulu ya nek”

“Setelah mandi, sholat terus makan ya nur. Nenek sudah siapkan Nasi tempe di meja”

‘’’

Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, Bapak tersebut yang menurut Nenek adalah Bapakku datang ke rumahku. Dengan wajah yang merah penuh dengan ketakutan ia masuk dan langsung memelukku dengan sangat erat, air matanya membanjiri pundakku. Ia juga memeluk dan bersujud di depan Nenek. Ia meminta maaf kepadaku dan Nenek.

Terharu aku, tak tega aku menolak permintaan maafnya. Nenekku dengan air mata bercucuran menyuruhku untuk salim kepada bapakku sebagai tanda jika aku dan Nenek sudah memaafkannya. Dengan hati yang penuh dengan kerinduan, aku menyalami bapakku dan menerima permintaan maafnya.

“Makasih ya bu. Ibu sudah mau memaafkanku”

“Iya sama sama”

“Makasih ya Nur, Baoak tau kamu pasti masih marah dan kecewa sama bapak”

“Iya pak, Nur sudah maafkan bapak”

“Oh iya, Bapak bawa baju buat kamu dan Nenek”

“Wah bagusnya, makasih ya pak, baru oertama kali aku pakai baju sebagus ini”

Bapakku adalah mantu dari Nenekku. Bapakku ingin aku tinggal bersamanya, namun aku menolaknya karena aku tidak tega meninggalkan Nenek sendiri.

“Kita setiap minggu pasti ke rumah nenek, Nur”

“Tidak pak. Aku sayang sama nenek”

“ya sudahlah, bapak pun tidak memaksa. Tapi bolehkah bapak setiap hari kesini?”

“Boleh dong”

Tiba tiba Nenek menanyakan kabar ibuku kepada Bapak. Namun bapak tidak tau keberadaannya sekarang. Mungkin nenek kangen dengan anaknya yang juga ibuku. Aku tidak kangen sama ibu, tapi aku penasaran ibuku seperti apa? Walaupun aku sering melihat ibu di foto milik Nenek, tapi itu saat dia berumur 16 tahun. Bapak menjelaskan kepadaku,

“Nak, ibumu itu cantik, baik, dan murah senyum seperti nenekmu”

“kalau ibu baik kenapa ibu menitipkan aku pak, bapak juga kan?”

Kan bapak sudah bilang, kita saat itu benar benar tidak punya uang, utang dimana mana”

“Hmm..”

Tiba tiba nenek menganggu percakapanku

“Din, tolong carikan anakku. Aku ingin bertemu dengannya sekalian aku juga ingin melihat Nur memeluk ibunya”

Udin adalah nama bapakku, aku sudah tahu sebelum kita bertemu, yang pasti dikasih tahu Nenek.

“Iya bu, insya Allah besok saya akan cari. Ibu di rumah aja ya, tidak usah ikut biar aku sama Nur saja”

“Terima kasih ya, Din”

“Ya bu, sama sama”

‘’’

Keesokan harinya, aku berangkat bersama bapak untuk mencari ibu. Nenek di rumah sendiri. Pencarian pertama kita adalah ke rumah teman dekat ibuku, ternyata dia tahu dimana ibuku sekarang tinggal. Namun jauh yaitu di Bogor dan  katanya dia sudah menikah lagi dan memiliki 2 orang anak. Kurang lebih 3 jam aku sampai di Bogor dan kami mencari alamat yang diberikan teman ibuku. Tidak begitu jauh dari pusat Kota Bogor, kami temukan alamat rumah ibuku. Baru berjalan sampai depan pagar, seorang wanita yang cantik keluar dari rumah tersebut. Hatiku berkata inikah ibuku? Inikah orang yang telah melahirkanku?

“Desi, kamu Desi kan?”

“Mas Udin, iya mas Aku Desi. Mau ngapain mas kamu kesini? Kita kan sudah resmu bercerai?”

“Ini Des, Ini.. kamu lupa? Ini anak kita Nurohman”

Tak jauh berbeda dengan Bapak, Dia juga menangis sambil memelukku. Dia meminta maaf kepadaku”

“Nur, Nurohman sayang. Maafin ibu ya Nur. Ibu janji bakal bahagiain kamu. Ibu sayang banget sama kamu. Maafin ibu ya Nur”

“Tapi kenapa ibu tinggalin aku?”

“Ibu sebenarnya tak tega menitipkanmu, tapu ekonoki, ekonomi memaksakan ibu nak”

“Kenapa ibu tidak mencariku?”

“Suami ibu melarang ibu untuk pergi ke luar kota nak, ingin ibu pergi sendiri namun tidak mungkin”

Kami akhirnya pulang bersama ke rumah Nenek. Sesampainya di rumah Nenek, terdapat bendera kuning di persis depan rumah. Tiba tiba tetanggaku datang ke arahku.

“Nur, Nenekmu ditabrak lari oleh orang tak bertanggung jawab”

Tak karuan lagi perasaan dan pikiranku, Apakah aku harus sedih. Apakah kau harus bahagia. Ibuku pingsan melihat nenek berbaring tidur untuk selamanya.

‘’’

Seminggu setelah kematian Nenek, bapakku mengajakku untuk tinggal bersamanya. Aku pun tinggal bersamabapak di rumah yang mewah sedangkan ibuku meminta kepada bapakku untuk mengantarkanku ke bogor setiap bulannya.

Mungkin sudah jalan hidupku seperti ini. Aku bahagia tinggal bersama bapak, dan setiap bulan Aku juga bahagia bertemu ibu. Kini aku tidak berjualan lagi, aku kembali sekolah. Terima kasih ya Allah atas rezeki –Mu”

wp-1473516152667.pngwp-1473516171803.png

TAMAT

Karya : Moh. Rizki

 Tag : Cerpen tentang kehidupan; Tugas Bahasa Indonesia; Membuat Cerpen; Membuat cerita pendek tema kehidupan seorang anak; Anak yang berbakti; Tema sosial, agama, budaya, susila; Nilai kehidupan cerita pendek; Cerpen tentang pedagang asongan; Cerpen tentang broken home; Cerpen tentang kemelaratan

Iklan